DI ANTARA KEJAHATAN DAN KEBAIKAN, LALU SIAPA PERTENGAHAN DARI MEREKA ?
Ini karya pertama saya yang dipublish dengan harapan bisa menghibur Anda. Jika ada beberapa yang mirip seperti kejadian, nama, dan tempat itu hanya kebetulan semata. Karena saya membuat karya ini murni dari hasil pemikiran saya sendiri.
Alyssa Rudolf, gadis berdarah Aussie itu tuk pertama kali ia menginjakkan kakinya di tanah di mana banyak pertikaian dan pertumpahan darah terjadi. Sebuah negara yang hingga kini masih belum merasakan apa itu arti dari kemerdekaan. Setelah turun dari mobil van putih, Alyssa sudah cukup siap akan tugasnya. Kali ini Miss Beverly yang notabennya sebagai ‘Pemimpin Redaksi’ memberikan perintah tuk pertama kalinya kepada Alyssa. Selama ini Alyssa bekerja dibawah pimpinan Miss Beverly tanpa adanya perintah khusus darinya. Kesempatan emas ini sangat berharga bagi Alyssa untuk menunjukkan bakatnya.
“Fokuskan dirimu Alyssa, jangan buat kecewa Miss
Beverly.” Ucapnya sebagai penyemangat diri.
Alyssa melihat sekitar tempat sejenak, ia harus segera
memulai pekerjaannya. Mungkin dengan pria tinggi bermata hijau itu. “Permisi?
Saya jurnalis dari BVV News, saya ingin melakukan wawancara dengan ketua
anggota dewan di barak ini.”
“Apa kau sudah menyerahkan surat permohonan?” Tanya pria
tersebut.
“Iya, mereka menyuruhku tuk datang ke sini.” Semenjak sebulan
yang lalu Alyssa sudah mengirimkan surel tersebut dan ketika mendapat
persetujuan ia langsung berangkat.
“Dia sedang rapat saat ini, mungkin akan lama karena baru
saja dimulai.”
Pria itu mengambil kursi yang letaknya tak jauh dari
mereka berdiri. “Duduklah!”
Alyssa hanya menurut saja, terlalu lama berdiri juga
tidak baik kan? Sementara pria tadi pergi entah kemana. “Ini, maaf kita hanya ada air. Bahan makanan
disini sangat terbatas,” dia datang, pria itu lagi tetapi kali ini dengan
segelas air penuh untuk Alyssa.
“Terima kasih,” ucap Alyssa yang dengan senang hati
menerimanya.
Alyssa meminumnya dengan cepat karena memang sedari tadi
ia sangat haus. Bodohnya ia lupa membawa sebotol air yang sudah ia siapkan
sedari pagi. Sekarang mungkin botol itu hanya
berdiri diam di atas nakas. Alyssa lega setelah gelas yang berisi penuh
air kini sudah habis ditelan olehnya. “Kau sungguh haus ya?”
‘Sial, kenapa dia masih di sini?’ gerutu Alyssa dalam
hati yang mendapati pria itu berada di depannya saat ini.
Tidak ada jawaban dari Alyssa, pria itu memikirkan
sesuatu untuk menjadi bahan topik pembicaraan mereka. “Kau ingin membahas
perihal apa dengan Mr. Darwin?”
“Intinya tentang daerah ini, berita yang lagi hangat.
Sering terjadi penjualan anak dan wanita antar germo, benar kan?”
“Ya, kau benar. Dan kau tahu? Banyak orang datang kemari
dengan janji memberikan kedamaian. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kau
bisa lihat sendiri. Kejahatan, kekerasan, ada dimana-mana. Jika tidak bisa
membantu lebih baik tidak datang, merepotkan saja.”
“Jadi kau menyindirku?”
“Kau salah paham, nona.” Ucap pria itu sambil terkekeh
pelan.
Pria itu melihat jam yang melingkar sempurna di
tangannya. “Mau ikut denganku?”
“Kemana?” Alyssa mengernyitkan kedua alisnya.
“Aku pastikan kau tidak akan menyesal.”
Tanpa tau dibawa kemana, bodohnya Alyssa mau saja ditarik
tangannya oleh pria tak dikenalnya itu. Ia melupakan tugasnya begitu saja. Jika
Miss Beverly tahu, mungkin ia bisa dimari habis-habisan olehnya. Mereka terus
saja berjalan dengan Alyssa yang masih berkecamuk dengan pikirannya.
“Apa kau lelah?” tiba-tiba pria itu membuka topik
pembicaraan setelah sepuluh menit lalu mereka hanya berjalan dalam diam.
Alyssa yang mendengarnya langsung menoleh kea rah pria
tersebut, “kau meremehkan aku?”
“Kenapa kau selalu berpikiran negatif tentangku, nona?
Aku hanya bertanya.”
Alyssa tidak menyahuti ucapan pria itu dan hanya menatap
jalanan saja. Ada benarnya juga, Alyssa tidak berhak marah ketika ada seseorang
yang perhatian dengannya. Itu tindakan yang akan merugikan diri sendiri.
“Kau tunggu di sini sebentar, aku akan kembali.”
“Hey, kau mau kemana? Tuan bermata hijau.” Alyssa
ditinggal sendirian oleh pria itu. Sangat tidak bertanggung jawab sekali.
Pria itu memasuki kerumunan orang-orang dan menghilang
begitu saja dari pandangan Alyssa. Lima menit sudah ia menunggu kedatangan pria
itu tetapi belum muncul juga. Alyssa memutuskan untuk menghitung mundur dari
angka 10, ia lelah, dan ingin segera
pulang ke kampung halamannya. Tepat pada hitungan ke-tiga muncul ujung kepala
pria itu tetapi kini ia membawa dua kantong plastik besar yang penuh.
“Maaf menunggu lama, aku sedikit kesusahan membawanya.”
“Apa itu?” Tanya Alyssa penasaran.
Pria itu mengangkat tangan kanannya yang membawa kantong
plastik, “makanan untuk anak-anak.”
Alyssa segera melototkan kedua matanya, “kau punya anak
berapa? Sebanyak itu?”
“Hahaha…, kau sungguh lucu sekali, nona. Bisa kau bantu
aku membawanya?”
“Aku bertanya kepadamu, tuan.” Alyssa mengambil satu
kantong plastik yang berada di tangan kiri pria itu.
“Nanti saja, kau akan mengetahuinya.”
Mereka melanjutkan perjalanan lagi yang kini lebih jauh
dan menghabiskan waktu lima belas menit. Alyssa masih bingung, ingin bertanya
pun pasti pria itu akan menjawab. “Nanti kau akan tahu sendiri.”
“Apa masih jauh? Kalo begitu tadi seharusnya aku tidak
ikut denganmu saja,” keluh Alyssa.
“Kita sudah sampai, lihat itu.” Pria itu menunjuk ke
sebuah camp yang disana terdapat empat tenda yang berisi banyak anak-anak.
“Tempat apa ini?”
“Di sini tempat para anak-anak mendapat cukup perhatian.
Mulai dari pendidikan, kebutuhan hidup, kasih sayang yang seharusnya mereka
rasakan.” Jelas pria itu yang kemudian ada seorang remaja laki-laki mendatangi
mereka
“Ini makanannya sudah kakak beli. Tolong bagi ke yang
lainnya ya!”
“Baik kak.”
Remaja itu mengambil makanan yang di bawa Alyssa dan pria
itu. “Adikku, dia yang merawat semua anak-anak di sini.”
“Oh, pantas saja mukanya mirip denganmu.” Sahut Alyssa
sambil menatap ke arah dimana wajah para anak-anak kecil bersemu senang ketika
mendapat sebungkus makanan.
“Mereka menggemaskan bukan?” pertanyaan yang dilontarkan
pria itu hanya mendapat anggukan dari Alyssa.
“Perlu kau ketahui bahwa rata-rata di sini merupakan anak
yatim karena ayah mereka yang meninggal karena ikut berperang. Bisa kau
bayangkan, bagaimana mereka bisa menutupi kesedihan mereka hanya dengan
mendapat sebungkus makanan.“
Alyssa menatap pria itu yang berada di sampingnya, “kau
memang benar. Mereka tidak bisa merasakan betapa bahagianya diceritakan dongeng
di malam hari dan mendapat pelukan hangat ketika tidur.”
“Bergabunglah dengan kami kalau begitu,” ajak pria itu.
Alyssa bingung atas ajakan pria itu untuk bergabung,
“maksudnya?”
“Makan dengan kami, bersama anak-anak itu.”
Tentulah Alyssa dengan senang hati menerima ajakan pria
itu. Mereka berdua pun bergabung bersama anak-anak tersebut yang kini sudah
siap dengan makannya di depan mereka masing-masing. Ternyata banyak anak-anak
yang suka dengan Alyssa, mereka bermain bersama. Untungnya Alyssa membawa
sebuah tablet miliknya yang sering ia gunakan untuk menonton film.
“Mau menonton film tidak?” Tanya Alyssa yang kemudian
mendapat sorakan ‘iya’ dari anak-anak tersebut. Mereka saling bertukar tawa
hingga Alyssa terlupa akan tugasnya itu.
Alyssa melihat layar ponselnya yang memperlihatkan sudah
satu setengah jam berlalu begitu saja, “sial, bagaimana aku bisa lupa.”
“Anak-anak menontonnya sampai sini saja ya, kakak harus
pergi.”
“Tenang saja, tidak usah terburu-buru.” Pria itu muncul
dengan santainya berucap seperti itu.
Alyssa langsung memandang sinis kea rah pria itu, “aku
memiliki tugas di sini bukan untuk bersenang-senang.”
“Tunggulah sebentar lagi, nona.”
Alyssa menghiraukan ucapan pria itu dan segera pergi dari
camp. Alyssa beranjak dari tempat duduknya hendak kembali ke barak tapi pria
itu lagi-lagi menahannya. “Ada apa?”
“Itu lihat ke sana, Mr. Darwin. Orang yang ingin kau
wawancara.”
Bagaimana bisa dia ada di camp seperti ini? Dia kan orang
penting. Alyssa menatap pria itu entah untuk berapa kesekian kalinya. Kali ini
tatapan Alyssa seperti meminta penjelasan dari pria itu.
“Aku kan sudah bilang dari awal, kalau kau tidak akan
menyesal ikut denganku. Dia yang membuat camp ini dan dia juga yang
mengumpulkan para anak-anak itu. Sementara aku di sini sebagai penanggung
jawabnya.” Jelas pria itu dengan tersenyum seperti puas mengerjai Alyssa dari
beberapa jam yang lalu.
“Luar biasa! Kenapa tidak memberitahuku dari tadi?” geram
Alyssa.
”Sudah jangan memasang muka kesal seperti itu,
tersenyumlah. Aku sudah memberitahu Mr. Darwin bahwa ada seseorang yang meminta
untuk melakukan wawancara. Persiapkan dirimu.”
Alyssa pun melakukan pekerjaannya dan akan membuat Miss
Beverly bangga kepadanya, ia pastikan itu. Tak disangka Alyssa ternyata Mr.
Darwin bukanlah orang yang kaku seperti yang ia bayangkan sebelumnya justru
malah kebalikannya, humoris. Proses wawancara itu tak berlangsung lama, Alyssa
segera untuk pamit pulang ke hotel untuk membereskan barang-barangnya dan
menuju ke bandara. Ia tak mau untuk ketinggalan penerbangannya dan akhirnya
nanti menetap di sini lebih lama lagi.
”Setelah ini kau akan kemana?”
“Kembali ke hotel jadwal penerbanganku malam ini. Aku
tidak punya banyak waktu jadi maaf aku harus segera pulang.” Jawab Alyssa
kepada pria itu.
“Tidak perlu meminta maaf, kau di sini hanya untuk
menyelesaikan pekerjaanmu kan?”
Alyssa tak mau lagi untuk berbicara dengan pria
menyebalkan ini. Ia tak lupa juga berpamitan kepada Mr. Darwin. “Idris bukankah
kau memiliki banyak sekali waktu luang? Antarkan nona ini!”
“Tidak perlu, tuan.”
Idris datang membawa kunci mobil di tangannya, “kau orang
asing di sini dan tidak mungkin juga untukmu dengan cepat mengetahui seluk
beluk tempat ini.”
Alyssa tidak bisa menolak bantuan Idris karena meski ia
menolak, Idris akan memiliki banyak alasan lainnya untuk Alyssa. Jadilah mereka
kini berada di mobil menuju hotel tempat Alyssa menginap.
“Kita bersama-sama sejak beberapa jam lalu dan aku belum
tahu namamu,” Ucap Idris memecah keheningan di antara keduanya.
“Untuk apa kau ingin tahu kalau sebentar lagi kita akan
berpisah.”
“Baiklah, aku akan menganggap ini sebagai moment untuk
dikenang nanti.” Ujar Idris yang kini focus akan kegiatannya menyetir. “Boleh
aku meminta sesuatu padamu?”
“Asal tidak menyusahkanku akan aku lakukan,” jawab
Alyssa.
“Tulislah apa yang sebenarnya terjadi dan beri tahu
pembacamu bahwa di dunia ini banyak yang mengalami kepahitan. Biar mereka yang
meratapi nasib berpikir, ternyata banyak di luaran sana yang sebenarnya memiliki
kepahitan yang tiada tara.”
Perjalanan yang cukup menyenangkan di tempat yang penuh
kegaduhan ini sulit untuk dilupa bagi Alyssa. Banyak hal yang tak diketahuinya
selama ini, terkadang ia merasa di dunia ini kebahagiaan lebih banyak daripada
kejahatan. Pemikiran Alyssa salah besar, ia memiliki pemikiran seperti itu
karena ia tumbuh dengan banyak kasih sayang. Berbeda dengan anak-anak yang tadi
ia temui, tumbuh dengan minimnya kasih sayang.
Seseorang tumbuh di lingkungan baik ia akan menjadi
pribadi yang baik, sedangkan seseorang yang tumbuh di lingkungan penuh
kejahatan ia akan menjadi pribadi yang buruk. Seseorang tumbuh menjadi apa yang
seperti ia tempati. Kegelapan tercipta karena tidak adanya cahaya layaknya
kejahatan itu muncul karena tidak adanya kebaikan.
***
Salam, Penulis.

KEREN MBAK BEL♡
BalasHapus-Amel
Terima kasih teman ku😊
Hapus