Langsung ke konten utama


KITA YANG KERAS ATAU DUNIA YANG KERAS ?

Ini karya ke-tiga saya yang dipublish dengan harapan bisa menghibur Anda. Jika ada beberapa yang mirip seperti kejadian, nama, dan tempat itu hanya kebetulan semata. Karena saya membuat karya ini murni dari hasil pemikiran saya sendiri.





Gedung yang dibangun dengan rancangan arsitektur megah kini tak disangkanya bagi Andra menjadi tempat di mana karya-karya miliknya terpasang. Pameran lukisan yang sejak dulu diimpikan oleh Andra, bukan lagi hanya menjadi sebuah imajinasi untuknya. Berawal dari seorang pelukis jalanan yang bermodalkan keahlian tidak akan menjadikannya seperti sekarang ini. Butuh kegigihan dan kerja keras disamping itu semua. Keduanya merupakan hal pokok penting bagi Andra untuk bisa mencapai hingga ke titik di mana ia sekarang. 

“Andra Si Pelukis Jalanan!”

Merasa namanya dipanggil Andra pun menoleh ke arah suara itu berasal. Ternyata temannya sewaktu dulu ketika ia masih menjadi pelukis jalanan, Adrian namanya. Tak pernah absen pria berkelimang harta nan manja itu selalu mengejeknya setiap hari sepulang sekolah.

“Oh maafkan aku teman! Lebih tepatnya sekarang Andra Si Pelukis Gedungan, benar kan?” Masih tetap dengan gaya tengilnya Adrian mengejek masa lalu Andra yang begitu jelas diingatannya.

“Terserah apa yang akan kau bilang, aku tidak peduli lagi.”

Adrian mengernyitkan kedua alisnya tampak bingung atas tanggapan temannya itu yang sama sekali tidak marah terhadapnya. “Andra telah banyak berubah,” pikir Adrian.

“Ada satu pertanyaan buatmu, kenapa kau mengundangku ke sini?” Tanya Adrian kepada Andra.

“Lalu kenapa kau datang?” Tanya Andra balik kepada Adrian.

“Hei, aku bertanya dan kau menanggapinya dengan bertanya juga. Apa aku harus membalasnya dengan bertanya lagi? Kalau begitu siapa yang akan menjawab?”

Mendengar ucapan Adrian membuat Andra sedikit terkekeh, “Entahlah, tiba-tiba saja aku malah teringat orang yang berperan buruk di kehidupanku. Mungkin saja dengan diriku sekarang kita bisa menjadi teman?”

“Tidak mungkin, karena aku berasal dari darah biru dan kau bukan. Meskipun sekarang keadaan telah berubah tapi asal-usul tidak akan pernah.” Sifat kesombongan dalam diri Adrian juga tidak akan pernah hilang rasanya.

Andra mengehela nafas sejenak, “baiklah, sepertinya kau ingin tetap menjadikanku sebagai musuh.”

“Aku tidak pernah menganggapmu sebagai musuh. Kau terlalu lemah untuk dikalahkan,” balas Adrian.

“Baguslah, setidaknya kau tidak menganggapku musuh.”

“Sudahlah aku berkeliling saja, meladeni kau sama saja membuang waktu ku yang berharga ini.”

Adrian pergi melewati Andra yang merenung sejenak memikirkan bahwa orang seperti Adrian tidak akan pernah berubah, kecuali atas kemauannya sendiri. Merubah seseorang bukanlah hal yang mudah, tidak perduli kau mempunyai hubungan apa dengan orang itu sekalipun.

Tak lama pria lain menghampirinya, kali ini bukan temannnya melainkan pemilik gedung. Tubuhnya tinggi dan berisi sangat jauh berbeda dengan tubuh Andra yang kurus dan pendek. Hal kecil itu, nampak terlihat secara nyata perbedaan orang yang hidup mewah dan miskin tanpa harus menyelidiki latar belakangnya dulu.

“Pak Andra, selamat atas pameran lukisan Anda!”

Mereka berdua saling berjabat tangan, “terima kasih.”

“Tidak ada ruginya saya meminjamkan gedung ini untuk Anda. Saya rasa itu setimpal dengan hasil karya Anda.”

“Cukup Pak Dandi, sudah terlalu banyak pujian yang saya dapat hari ini. Saya tidak mau besar kepala nantinya,“ balas Andra dengan sedikit terkekeh.

“Kalau begitu saya punya saran untuk Anda bertemu orang yang ahli menghina di kota ini. Seandainya dia di sini, saya pastikan Anda tidak akan pernah besar kepala.” Ucapan Pak Dandi hanya dibalas senyuman tipis oleh Andra.

Mereka saling diam beberapa detik, Andra tak tahu topik apa yang akan dibahasnya. Pak Dandi adalah pebisnis sedangkan dirinya adalah pelukis. Jalan yang mereka tekuni saling bertolak belakang,

“Loh itu orangnya.”

“Siapa?” Tanya Andra kepada Pak Dandi.

“Orang yang saya maksud, Adrian Winanta.” Mengdengar satu nama yang disebut Pak Dandi membuat Andra langsung terpikirkan satu orang.

“Adrian Winanta?”

“Iya, itu dia.” Tunjuk Pak Dandi ke arah di mana sosok yang diyakini oleh Andra dan tebakannya benar.

“Saya kenal orang itu,” sahut Andra setelah melihat orang yang dimaksud Pak Dandi.

“Oh, ya? Kalian berteman?”

“Bukan.”

Pak Dandi berpikir sebentar menebak hubungan di antara Andra dan Adrian, “saya pikir nasib Anda sama dengan saya.”

Dengan muka bingung Andra tidak tahu arti dari perkataan Pak Dandi, “maksudnya?”

“Anda mungkin salah satu korban dari Adrian, dulu saya satu kampus dengannya. Bisa dikatakan saya paling bodoh di kelas saat itu. Adrian, satu-satunya orang yang mau sekelompok dengan saya. Awalnya saya heran kenapa bisa ada yang mau sekelompok dengan orang bodoh seperti saya,” jelas Pak Dandi yang didengarkan dengan seksama oleh Andra.

“Dan selama satu kelompok dengan Adrian, saya mendapat banyak sekali caci maki darinya. Rasanya ingin saya keluar dari kelompok itu, tapi Adrian melarang saya. Hingga waktu skripsi pun saya juga dibantu Adrian dan syukurnya saya lulus sampai menjadi sekarang ini.”

Andra mulai memahami maksud dari Pak Dandi, mereka senasib menjadi korban cacian Adrian. “Lalu bagaimana dengan Anda?” Tanya Pak Dandi.

“Benar apa kata Pak Dandi tadi, kita senasib. Saya hanyalah pelukis jalanan yang seering mendapat olokan dari beberapa orang seperti Adrian. Tapi dia yang paling parah dari semua orang itu, jika kita saling bertemu saya selalu dibuat marah olehnya..” Jawab Andra sambil mengingat masa lalunya.

“Adrian melakukan itu ada alasannya, dia tidak ingin seseorang yang memiliki kekurangan menyerah begitu saja tanpa mencoba. Dia memang salah mendukung seseorang dengan menghinanya, tapi itulah Adrian. Dia mempunyai cara tersendiri,” ucap Pak Dandi.

“Bagaimana Anda bisa tahu?”

“Dia yang memberitahu saya sendiri, ketika saya ingin menyerah dia katakan itu pada saya. Jika bukan diri sendiri yang keras maka dunia yang akan keras pada kita, dia menanamkan itu pada saya.”

Andra sekarang mengerti, ia telah salah menganggap Adrian sebagai orang yang berkepribadian buruk selama ini. Setelah dipikir-pikir tindakan yang Adrian lakukan ada benarnya, Andra mungkin akan menjadi gelandangan saat ini. Dia hampir menyerah karena lukisan yang ia gambar tidak pernah terjual, tapi berkat cacian dari Adrian membuatnya bertambah semangat saat itu. Rasa ingin membuktikan pada dunia bahwa dia bisa terus berputar dibenaknya.

“Saya pamit dulu Pak Andra, ada keperluan lain yang harus saya kerjakan.”

“Terima kasih atas kedatangan Pak Dandi,” balas Andra yang kemudian mereka saling berjabat tangan lagi.

Banyak hal yang tak diketahui oleh Andra tentang Adrian dan sekarang ia harus mencarinya. Keberadaan Adrian saat ini sangat penting bagi Andra. Ia sudah berkeliling kesana kemari dan sesekali bertanya kepada pegawai yang ada tapi nihil Adrian menghilang entah kemana.

“Adrian, tunggu sebentar!” Panggil Andra yang menemukannya di lobi hampir memasuki mobil.

“Hati-hati nanti kau terjatuh, aku tak mau mengeluarkan sepeserpun untukmu.” Ucap Adrian sedikit berteriak melihat Andra yang berlari kecil menghampirinya.

Sesampainya Andra hanya memandangi Adrian. “Ada apa?” tanya Adrian.

“Terima kasih!”

“Untuk apa? Aku tak pernah melakukan sesuatu untukmu,” sahut Adrian.

Tanpa perizinan Andra langsung memeluk Adrian yang terlihat bingung dengan sikap Andra yang tiba-tiba memeluknya itu. Namun, Adrian tidak langsung menolaknya bahkan membiarkan Andra untuk memeluknya.

“Maaf sudah salah sangka padamu,” ucap Andra sambil melepas pelukannya.

“Rupanya kau sudah menyadarinya. Baguslah, aku tak perlu repot-repot lagi terus menghinamu.”

Setiap tindakan pasti mempunyai tujuan tertentu buruk ataupun baik itu tergantung dari yang melihatnya. Apa yang terlihat baik belum tentu juga mempunyai tujuan yang baik dan sebaliknya pun juga. Beberapa orang mempunyai panca indera mereka tapi kenapa pada otak tak selalu digunakan? Mulut bisa untuk menghujat tanpa berpikir. Melihat sesuatu yang menyimpulkan bahwa itu buruk tanpa berpikir. Mendengar nasehat tanpa berpikir hingga langsung terlupakan. Begitulah manusia bumi yang berjalan saat ini.


***


Terima kasih sudah meluangkan waktu Anda.

Salam, Penulis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI ANTARA KEJAHATAN DAN KEBAIKAN, LALU SIAPA PERTENGAHAN DARI MEREKA ? Ini karya pertama saya yang dipublish dengan harapan bisa menghibur Anda. Jika ada beberapa yang mirip seperti kejadian, nama, dan tempat itu hanya kebetulan semata. Karena saya membuat karya ini murni dari hasil pemikiran saya sendiri. Alyssa Rudolf, gadis berdarah Aussie itu tuk pertama kali ia menginjakkan kakinya di tanah di mana banyak pertikaian dan pertumpahan darah terjadi. Sebuah negara yang hingga kini masih belum merasakan apa itu arti dari kemerdekaan. Setelah turun dari mobil van putih, Alyssa sudah cukup siap akan tugasnya. Kali ini Miss Beverly yang notabennya sebagai ‘Pemimpin Redaksi’ memberikan perintah   tuk pertama kalinya kepada Alyssa. Selama ini Alyssa bekerja dibawah pimpinan Miss Beverly tanpa adanya perintah khusus darinya. Kesempatan emas ini sangat berharga bagi Alyssa untuk menunjukkan bakatnya. “Fokuskan dirimu Alyssa, jangan buat kecewa Miss Beverly.” Ucapnya sebagai penyemangat ...
MEMBAGI HIDUP Ini karya ke-dua saya yang dipublish dengan harapan bisa menghibur Anda. Jika ada beberapa yang mirip seperti kejadian, nama, dan tempat itu hanya kebetulan semata. Karena saya membuat karya ini murni dari hasil pemikiran saya sendiri. Sepulang sekolah bagi Misha adalah hal yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Energinya serasa telah diserap habis oleh banyaknya kerumunan teman-temannya dan hal yang menyenangkannya, ia akan dengan nyaman berada di dalam kamarnya dan menikmati kesunyian. Sudah seminggu yang lalu Misha diperbolehkan dokter untuk bisa keluar dari rumah sakit, tempat yang hampir lima tahun lamanya ia tempati. Misha terlahir dengan ketidaksempurnaan, penyakit cacat jantung bawaan sudah dideritanya sejak ia lahir. Syukurlah, Tuhan berlaku adil padanya. Seseorang dengan kebaikan hatinya mendonorkan jantung kepada Misha. “Pria tua itu lagi,” dengus Misha kesal melihat seorang pria yang sudah berumur itu mengikutinya lagi. Entah siapa pria itu, awalnya Misha ber...