Langsung ke konten utama


MEMBAGI HIDUP

Ini karya ke-dua saya yang dipublish dengan harapan bisa menghibur Anda. Jika ada beberapa yang mirip seperti kejadian, nama, dan tempat itu hanya kebetulan semata. Karena saya membuat karya ini murni dari hasil pemikiran saya sendiri.





Sepulang sekolah bagi Misha adalah hal yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Energinya serasa telah diserap habis oleh banyaknya kerumunan teman-temannya dan hal yang menyenangkannya, ia akan dengan nyaman berada di dalam kamarnya dan menikmati kesunyian. Sudah seminggu yang lalu Misha diperbolehkan dokter untuk bisa keluar dari rumah sakit, tempat yang hampir lima tahun lamanya ia tempati. Misha terlahir dengan ketidaksempurnaan, penyakit cacat jantung bawaan sudah dideritanya sejak ia lahir. Syukurlah, Tuhan berlaku adil padanya. Seseorang dengan kebaikan hatinya mendonorkan jantung kepada Misha.

“Pria tua itu lagi,” dengus Misha kesal melihat seorang pria yang sudah berumur itu mengikutinya lagi.

Entah siapa pria itu, awalnya Misha berpikir mungkin mereka hanya satu jalan. Namun, pemikiran Misha salah akan hal itu karena sudah ke-empat kalinya ia diikuti seperti ini. “Hei Pak! Keluarlah jangan bersembunyi.”

Merasa ketahuan pria itu keluar dari balik mobil yang sedang terpakir.

“Apa masalahmu?” Misha sangat tidak suka terlalu banyak basa-basi.

“Tidak ada,” jawab pria itu singkat.

“Lalu kenapa Anda mengikuti saya sejak beberapa hari yang lalu? Anda pikir saya tidak mengetahuinya? Terlalu tampak sangat jelas bagi saya. Bisa tolong jelaskan!”

Terlihat keringat dingin mulai jatuh perlahan dari kening pria itu. Pandangannya ia arahkan ke bawah tak berani menatap Misha. Tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna hitam datang menghampiri mereka dengan mengebut. Pria itu menarik Misha untuk menghindar sehingga mereka berdua pun terjatuh dengan posisi Misha di pelukan pria tersebut.

“MISHA!” Dari seberang seorang wanita menjerit bercampur dengan khawatir.

“Mama?” Melihat mama-nya yang akan menghampirinya, Misha segera bangkit dan merapikan seragamnya.

“Kamu baik-baik saja kan, nak? Nggak ada yang luka, kan? Sini Mama periksa dulu.”

“Aku baik-baik saja, Ma. Untung ada Bapak ini,” ucap Misha sambil menunjuk pria yang telah menyelamatkannya.

“Loh, Pak Delon? Bagaimana bisa Anda di sini dengan anak saya?”

“Hanya kebetulan saja, Bu Tyas”

“Syukurlah, untuk kedua kalinya Anda sudah menyelamatkan anak saya Pak Delon. Terima kasih banyak!”

Kemudian Bu Tyas menyuruh anak semata wayangnya itu untuk masuk ke mobil lebih dulu karena Bu Tyas ingin mengobrol kecil dengan Pak Delon. Misha belum sempat menjelaskan kelakukan pria tersebut kepadanya tapi Bu Tyas sudah menuruhnya pergi. Sebelum pergi Misha mendengus kesal dan hanya bisa pasrah berjalan menuju ke mobil menungggu sang Mama.

Tak lama Bu Tyas datang tapi tak sendirian melainkan bersama Pak Delon juga. Jangan bilang pria itu akan ikut bersama mereka dan benar saja dugaan Misha tepat kali ini. Lebih menyebalkan lagi, Pak Delon duduk di kursi penumpang bagian belakang bersama Misha. Suasana di dalam mobil sepi tanpa ada yang ingin membuka suara, terutama kursi bagian belakang. Lewat beberapa menit mobil milik Bu Tyas berhenti sejenak hendak mengisi bensin hingga menyisahkan Pak Delon dan Misha di dalam mobil sana.

“Maafkan saya, nak. Saya melakukan itu karena mengikutimu kamu mirip dengan anak saya.” Ucap Pak Delon membuka suara tuk pertama kalinya setelah mereka hanya berdiam diri sejak berada di mobil.

“Jika Anda rindu, temui saja anakmu tidak perlu repot menjadi penguntit. Saya mohon tuk terakhir kalinya kepada Anda untuk tidak mengikutiku saya lagi,” balas Misha yang hanya mendapat senyuman kecil serta anggukan dari Pak Delon.

Usai mengisi bensin Bu Tyas datang, “rumah Pak Delon ada di mana?”

“Saya turun di sini saja, saya ada urusan di sekitar sini.”

“Kalau begitu bagus, sekalian saya antar.”

“Tidak perlu, kasihan anak-mu dia terlihat capek sekali hari ini. Biar kalian cepat sampai rumah Saya pergi lebih dulu, terima kasih atas tumpangannya Bu Tyas.” Pak Delon pun keluar dari mobil lalu menuju entah kemana itu pun juga bukan urusan Misha kan.

Tapi setelah kepergian Pak Delon, pikiran Misha penuh dengan banyak pertanyaan. Ia penasaran ada hubungan apa antara Mama-nya dan pria tak dikenalnya itu. Selama ini Mama-nya tidak pernah sekalipun menjalin hubungan dengan pria lain sejak meninggalnya Papa. Ingin sekali Misha bertanya tapi ia tak memiliki  cukup keberanian untuk melakukan hal itu.

“Mama, kita ke rumah Gina yuk! Aku mau tau kabarnya gimana ya? Dia udah lama nggak jengukin aku, padahal dulu hampir tiap hari dia datang. Tapi sekarang dia malah ngilang tanpa kabar.”

“Dia udah nggak di sini lagi, Misha.”

“Loh Gina pindah? Pantesan jarang jengukin aku, kita ke rumahnya saja sekalian. Aku mau buat kejutan buat dia,” ucap Misha sambil membayangkan bagaimana nanti ekspresi sahabatnya itu setelah melihat kedatangan Misha dengan keadaan yang berebeda dari sebelumnya.

“Baiklah, memang sepatutnya kamu harus tau.” Sahut Bu Tyas yang memutar balikkan mobilnya memutar arah.

Bu Tyas membawakan mobilnya bukan menuju sebuah pemukiman tetapi ke sebuah pemakaman umum, “Mama, kok malah ke sini, sih?”

“Rumahnya Gina deket sini kok nggak jauh.”

“kenapa juga gitu loh, milih rumah yang deket kuburan. Memang aneh,” gumam Misha.

Mereka berjalan melewati beberapa makam yang berjejeran rapi hingga mereka sampai di sebuah makam. Misha kaget melihat keberadaan Pak Delon yang juga ada di sana.

“Misha dan Bu Tyas, kalian ada di sini juga.” Ucap Pak Delon melihat kedatangan kedua orang yang beberapa menit lalu ia temui.

“Misha mau ketemu sama Gina,” sahut Bu Tyas. Mendengar namanya juga disebut Misha menoleh ke arah Mama-nya.

“Coba kamu lihat itu!” Misha mengalihkan pandangannya dimana arah telunjuk Mama-nya yang memperlihatkan batu nisan bertuliskan nama sahabatnya.

“Mama? Ini Gina siapa? Bukan sahabat aku kan? Ini Gina yang lain,” sanggah Misha merasa tak percaya.

Pak Delon mendekati Misha yang masih syok, “ini makam Gina anak saya.”

“Jantung yang saat ini berdetak di tubuhmu itu sebelumnya jantung milik Gina. Dia mengalami kecelakaan ketika mau menjemput saya di bandara. Saat itu, saya pikir akan bisa menghabiskan banyak waktu dengan Gina. Saya memutuskan untuk tidak lagi bekerja, untuk tidak lagi meninggalkan Gina sendirian, untuk akan selalu bisa bersamanya tetapi takdir berkata lain,” jelas Pak Delon yang mengingat bagaimana anak semata wayangnya meninggal dengan keadaan tragis.

“Kenapa Anda membiarkan Gina untuk mendonorkan jantungnya kepada saya?”

“Dia ingin membagi separuh hidupnya kepadamu Misha, bahkan ketika dia sekarat pun dia masih mengingatmu,” jawab Pak Delon.

“Tolong jangan membencinya, dia sudah berkorban demi kamu Misha,” kali ini Mamanya pun juga ikut membela Gina.

“Mama juga, kenapa membirakan dia melakukan itu? Mama tahu, kan aku nggak mau orang lain meninggal karena aku.”

“Lalu Mama harus apa Misha? Mama juga nggak mau kehilangan kamu, nak. Mama nggak mau merasakan kehilangan seseorang lagi untuk kedua kalinya.”

“Mama kamu juga tidak bersalah, Gina melakukan itu karena kemauannya sendiri, dia sudah lama berencana mendonorkan jantungnya padamu. Saya menemukan surat ini di kamarnya,” ujar Pak Delon sambil memberikan sebuah lembar kertas kepada Misha.

Surat tersebut menunjukkan bahwa Gina ingin mendonorkan jantungnya kepada Misha dan itu berlangsung sejak tiga bulan lalu. “Tak kusangka, aku punya sahabat yang bodoh sepertimu Gina. Apa dengan aku hidup lebih lama membuatku senang? Tentu saja, tapi tidak dengan tanpa kamu.”

Terkadang apa yang bagi kita baik belum tentu juga menurut orang lain begitu. Keputusan yang diambil oleh Gina tidaklah akan menjadi perbuatan yang menguntungkan bagi Misha. Hidup lebih lama tiada artinya jika kita tetap merasa kesepian, itulah yang dialami Misha. Memori memiliki beragam bentuk, bagi Misha setiap memori yang dia ciptakan bersama Gina hampir semua menyenangkan. Namun, memori terakhir adalah yang paling menyedihkan, yaitu kehilangan. Lebih baik berucap sampai jumpa daripada selamat tinggal.


***


Bagi Anda kehilangan yang sangat berat itu apa? Berikan alasannya di kolom komentar.

Terima kasih sudah meluangkan waktu Anda.

Salam, Penulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI ANTARA KEJAHATAN DAN KEBAIKAN, LALU SIAPA PERTENGAHAN DARI MEREKA ? Ini karya pertama saya yang dipublish dengan harapan bisa menghibur Anda. Jika ada beberapa yang mirip seperti kejadian, nama, dan tempat itu hanya kebetulan semata. Karena saya membuat karya ini murni dari hasil pemikiran saya sendiri. Alyssa Rudolf, gadis berdarah Aussie itu tuk pertama kali ia menginjakkan kakinya di tanah di mana banyak pertikaian dan pertumpahan darah terjadi. Sebuah negara yang hingga kini masih belum merasakan apa itu arti dari kemerdekaan. Setelah turun dari mobil van putih, Alyssa sudah cukup siap akan tugasnya. Kali ini Miss Beverly yang notabennya sebagai ‘Pemimpin Redaksi’ memberikan perintah   tuk pertama kalinya kepada Alyssa. Selama ini Alyssa bekerja dibawah pimpinan Miss Beverly tanpa adanya perintah khusus darinya. Kesempatan emas ini sangat berharga bagi Alyssa untuk menunjukkan bakatnya. “Fokuskan dirimu Alyssa, jangan buat kecewa Miss Beverly.” Ucapnya sebagai penyemangat ...
KITA YANG KERAS ATAU DUNIA YANG KERAS ? Ini karya ke-tiga saya yang dipublish dengan harapan bisa menghibur Anda. Jika ada beberapa yang mirip seperti kejadian, nama, dan tempat itu hanya kebetulan semata. Karena saya membuat karya ini murni dari hasil pemikiran saya sendiri. Gedung yang dibangun dengan rancangan arsitektur megah kini tak disangkanya bagi Andra menjadi tempat di mana karya-karya miliknya terpasang. Pameran lukisan yang sejak dulu diimpikan oleh Andra, bukan lagi hanya menjadi sebuah imajinasi untuknya. Berawal dari seorang pelukis jalanan yang bermodalkan keahlian tidak akan menjadikannya seperti sekarang ini. Butuh kegigihan dan kerja keras disamping itu semua. Keduanya merupakan hal pokok penting bagi Andra untuk bisa mencapai hingga ke titik di mana ia sekarang.  “Andra Si Pelukis Jalanan!” Merasa namanya dipanggil Andra pun menoleh ke arah suara itu berasal. Ternyata temannya sewaktu dulu ketika ia masih menjadi pelukis jalanan, Adrian namanya. Tak pernah a...